Ce Fiksi Kehidupan: Mei 2008 | Celoteh tentang seorang lalaki kecil belajar menempuh hidup

Senin, 12 Mei 2008

Esia

"Mas, beli esia dong." pinta suara di seberang telepon.
"Buat apa sih, nomer HPku sudah segini banyak. Kayak konter aja," aku berkilah.
"Kan murah buat nelpon lokal."
"Kan sudah ada flexi?"
"Kan nomerku esia, mas.."

Lho, apa hubungannya? pikirku. Tapi entahlah, pas beli pulsa di konter, aku beli juga perdana esia. Murah inih, pikirku. Setelah pasang RUIM, aku telepon teman aku itu. Nih, nomerku...

Beberapa waktu berselang, teman belum berubah juga. Tetap saja pada kebiasaan SMS atau miskol seperti biasanya. Penasaran, aku telpon dia.

"Hoi, aku kan sudah beli esia. Ngapain masih SMS juga. Masih pakai acara ngadat segala kalau telat balas. Sudah tahu aku sibuk belakangan ini."

Yang ditanya malah nyengir, "maksudnya kan biar mas murah kalo nelpon aku..."

"Huuu, mau mahal atau murah kan pulsa-pulsa aku. Ngapain kamu yang pusing. Emangnya kamu yang beliin pulsa?"

"Ga gitu, mas. Maksudnya biar pulsa mas ga cepet abis. Biar nelponnya ga sebentar-sebentar doang.."

Hmmm....

Minggu, 04 Mei 2008

Ganti Casing

"Ayaaaah, HPnya baru ya..?"
"Engga, emang kenapa, mas?"
"Kok jadi bagus, engga kayak kemarin. Jelek."
"Kan sudah diganti casingnya>"
"Kalau diganti casing, jadi bagus ya, yah?"
"Iya, sayang. Kenapa?"

Yang ditanya malah sejenak. "Yah, kenapa ibu engga diganti casingnya biar bagus. Adi kan pengen ibu yang baik, ga suka marah-marah, ga suka pergi-pergi terus, yang sayang..."

"Sssst..." kututup bibir mungilnya dengan telunjuk. "Engga boleh bilang kaya gitu sayang. Ibumu bukan HP. Ga bisa diganti casingnya."

"Ya, ganti HP sekalian aja, Yah..."

Sabtu, 03 Mei 2008

Kabur

HPku berbunyi nyaring. Sigap kuangkat.

"Halo... sore ini keluar rumah ga?" suara lembut muncul dari sebrang sana.
"Aku mau ke Puncak. Pengen nyepi di kebun teh tar malem. Otakku cape banget oleh kerjaan."
"Waduh, aku mau ikut numpang di tempatmu tar malam."

Aku diam sejenak, "hmmm.. gimana sih. Apa mau ikut ke gunung?"
"Boleh, lah. Aku lagi ga mau pulang malam ini."
"Lho, kenapa?"
"Pokoknya aku mau ngabur dari rumah. terserah kamu mau dibawa kemana?"
"Anak-anak gimana?"
"Biarin aja lah, ada bapaknya inih. Pokoknya aku ikut kamu."
"Ok, tar kau telpon lagi ya.."

Klik. HP kututup.
Kenapa sih orang sering melupakan miliknya yang paling berharga hanya karena sebuah problem yang mungkin tak terlalu berat?

Klek. HP kubuka.
Kulepas baterai dan kartunya...