Ce Fiksi Kehidupan: cerpen | Celoteh tentang seorang lalaki kecil belajar menempuh hidup
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 April 2008

Yang Kembali

“Win, kembalilah untukku,” ucapan itu meluncur perlahan dari bibir mungil itu.

Aku hanya mendesah pelan. Kutarik nafas dalam-dalam seraya meluruskan punggung di potongan kayu lapuk. Ucapan itu… Ya, kata-kata itu pernah kudengar dua tahun lalu. Di tempat yang sama, dari bibir yang sama, tapi hati yang kurasakan berbeda.

“Win, kembalilah untuk mereka,” sambungnya.

Aku menggeleng. “Tidak, Fie.”

“Mereka butuh kamu, Win..”

“Tapi aku butuh, hatiku,” lugas aku menjawab sambil menatap wajah yang tertunduk di hadapanku. Ku telusuri setiap pori-pori di wajah resah itu. Ada gundah, ada sesal, kecewa dan semuanya itu berbalut rindu.

Agak lama gadis itu terdiam dalam genangan air mata yang tertahan. Sejurus dia mengangkat muka, “kamu egois…”

“Aku..?” tanyaku setengah berteriak. Kuremas ranting kering dalam genggaman dan bangkit berdiri. “Setahun lebih aku memendamnya. Dan kamu tahu itu kan, Fie..? Selama itu aku mampu bertahan demi tujuan yang kamu katakan mulia. Dan tak tahunya aku hanya menggenggam alasan kosong. Kamu yang egois.!!!”

Kali ini butiran-butiran bening itu mulai meluncur turun dari kedua lubuk mungilnya. Tapi aku tak peduli. Kakiku melangkah meninggalkan halaman bertaman kecil itu. Di ambang tangga aku berhenti dan memutar tubuh ke arahnya. “Kembalilah segera. Sebentar lagi gelap. Atau kamu akan pulang ke kota jalan kaki? Maaf, gubukku terlalu kecil untuk berteduh berdua dengan perempuan egois seperti kamu.”

“Terima kasih atas kunjungannya,” sambungku sambil berjalan menaiki tangga kayu ke rumah panggung mungil di puncak bukit kecil. Sejenak aku sempatkan memeriksa minyak lampu teplok di atas meja. Lalu ku hempaskan pantat tipisku ke bangku kayu.

Aku terus terdiam hanyut dalam bayangan-bayanganku sendiri. Tak peduli Sofie masih duduk di kayu roboh depan padepokanku atau sudah beranjak pergi. Yang pasti, terasa sekali hatiku masih sakit walau sudah sekian lama kubawa pergi menyepi ke puncak bukit ini.

Dulu aku dan Sofie bergabung dengan kelompok pendaki yang bernama GSP. Organisasi yang begitu terkenal dengan satuan SARnya dan selalu menjadi ujung tombak disetiap kegiatan kemanusiaan. Dari sekian banyak anggotanya, ada atuan khusus yang teramat militan terdiri dari dua regu inti dan satu regu cadangan. Dan aku adalah salah satu ketua regunya.

Dalam perjalanan hidup berkelompok itu aku jatuh cinta pada gadis manis bernama Sofie yang sejak siang tadi menyambangi tempat persembunyianku. Aku ungkapkan perasaan itu dalam suatu kesempatan, dan dia pun mengerti akan perasaanku..

Namun semangat korsa gadis itu lebih besar daripada perasaannya. Sofie menjawab tegas, “aku mengerti perasaanmu dan juga perasaanku. Tapi ada yang lebih penting dari semua itu, Win. Kesatuan kita, tak boleh terpecah dan harus tetap utuh.”

Walau teramat berat, aku bisa menerima kenyataan itu. Ternyata Riko, pejabat tertinggi di GSP pun memiliki rasa yang sama denganku. Dia sudah lebih dulu menyampaikan itu kepada Sofie. Sebelum Sofie memberikan jawabannya, akupun datang menyampaikan cinta.

Kulihat mata polos itu begitu jujur ketika berkata bahwa dia menunda jawaban untuk Riko hanya karena hatinya condong kepadaku. Namun ketika aku menyapanya, kenapa pikirannya berubah cepat. Dia tak ingin aku dan Riko yang selama ini begitu solid di setiap penugasan jadi terpecah hanya gara-gara sepotong hati.

Aku sedih, namun aku juga tak ingin terkalahkan kesetiaanku pada kesatuan oleh seorang gadis kecil itu. Aku terima semuanya dengan lapang dada. Sampai suatu saat, dalam acara gladian di lereng gunung Slamet Sofie terpisah dari rombongan. Dia tersesat entah kemana.

Seluruh pasukan yang ada dibantu dari kelompok lain ikut mencari. Dan dia ditemukan dua hari berikutnya di lereng tebing terjal. Dia terkilir dan bertahan di akar-akar pepohonan di tepi jurang menganga sampai Riko menyelamatkannya.

Hanya itulah awal mulanya walau aku menyebut sebagai akhirnya. Penyelamatan itu menuntut penyelesaian sampai ke dalam hati. Tak kuasa aku melihat kehancuran harapanku di depan mata. Aku memilih mundur dari GSP dan menyepi di puncak bukit ini.

Siapa menyangka kepergianku malah membuat GSP terpecah. Secara organisasi Riko memang memegang kendali penuh terhadap anggota. Tapi dalam hal kedekatan hati dan kebersamaan di lapangan, aku lah panutan mereka. Setelah hampir empat bulan kelompok itu acak-acakan, Sofie datang kepadaku dengan segala sesal dan maafnya. Dia memintaku kembali dan menyatukan mereka seperti semula. Tapi aku tetap pada pendirianku.

---------

Itu kejadian dua tahun yang lalu. Dan senja ini, Sofie datang lagi ke gubuk mungilku. Dia juga memintaku kembali. Tapi permintaannya kali ini adalah untuk dia, bukan untuk mereka. Sedikit gugup bercampur gagap aku mendengarnya.

“Eh, kita masuk yu,” ajakku mencoba memecahkan suasana. “Sini, ranselnya aku yang bawa.”

Aku angkat tas punggung itu dan membukakan pintu. Sofie gontai melangkah mengikuti lalu duduk di kursi kayu. Tampak sekali dia kelelahan berjalan kaki dua kilo lebih menuju tempatku ini.

“Sebentar ya, aku ambilkan minum,” ucapku ketika melihat botol air di gantungan samping ranselnya tampak kosong.

Sofie mendahului bangkit dan memegang tanganku. “Eh, jangan, Win. Biar aku saja.”

“Jangan dong, kan aku tuan rumahnya.”

“Engga papa, aku saja. Sekalian aku bikinin kopi ya?” tukasnya bersikeras. “Masih suka kopi pahit dengan gula jawa, kan? Eh, punya persediaan engga? Aku bawa kok di ransel”

Hmmm… dia masih saja ingat kesukaanku dulu. Sofie memang bagian logistik di GSP. Dia perhatian sekali ke semua orang. Sampai hal-hal terkecilpun sering dia siapkan ketika ada penugasan. Setiap orang harus dikasih perhatian, biar tetap semangat, begitu katanya dulu. Terasa sekali kebenaran kata-kata itu. Dan perhatian itu pula lah yang dulu mampu membuat hatiku tercuri. Tak pernah bisa hilang sampai kini.

Aku pun tetap terdiam memperhatikan kegesitan yang masih saja ada di sosok indah itu. Tak hanya membuat kopi, gelas-gelas dan perabotan kotor di dapur kecilku pun segera tertata rapi. Heeei, kenapa aku terus saja tenggelam dalam diam..?

---------

Bagaimanapun juga aku tak bisa membohongi diri. Seringkali aku melamun dan membayangkan Sofie ada di setiap waktu sepiku. Rumah kayu mungil ini begitu kotor dan berantakan tak pernah aku urus dengan baik. Dan hatikupun terasa beku tanpa kelembutan seorang perempuan. Hari-hari hanya diisi celoteh-celoteh riang anak-anak kecil di kebun sayuran sekeliling tempatku.

Ketika kabut gunung mulai turun menjelang mentari kembali ke peraduan, kesunyian ini terasa sekali menyergap sampai ujung-ujung hatiku. Dan sore ini, kesunyian itu tiba-tiba menghilang entah kemana. Sampai tak sadar aku tersenyum sendiri terhanyut kenyataan mimpi itu. Aaah, andai saja dia selalu ada disini..?

Hei, tapi tadi dia berkata kembalilah untukku..? Kenapa tidak aku tanyakan maksudnya? Benarkah dia datang membangunkan aku agar tidak terus menerus bermimpi dan berkata kalau harapan itu nyata memang ada. Benarkah..?

---------

Kabut malam sudah lenyap diterpa angin gunung. Bulan setengah purnama mengantung indah di atas cakrawala. Nyanyian jangkrik dan tongeret hutan bersahutan menangisi desau angin yang mulai menusuk tulang. Biasanya aku mencari kehangatan di depan perapian sambil menunggu kantuk menjemput lelahku.

Tapi malam ini, aku duduk di halaman rumah beralaskan kayu lapuk pohon tumbang bersama Sofie. Ditemani dua gelas kopi panas dan beberapa tongkol jagung di atas api unggun. Aku jadi terbawa suasana, terkenang malam berlalu setiap perkemahan dahulu. Bercerita, bercanda, bernyanyi dan tertawa. Aku sungguh tak menyangka semua itu bisa kembali saat ini.

Sampai akhirnya aku tak kuasa menahan ganjalan hati tentang ucapan Sofie sore tadi. Sambil mengangkat tongkol jagung dari api aku bertanya, “Fie, bener kamu ngajak aku pulang ke kota?”

Yang ditanya malah menggeleng pelan. Waduh, wajah cerianya kok berubah sedikit muram. Perasaan aku tidak bicara yang aneh..?

“Lho, trus maksud kamu tadi siang apa?” tanyaku lagi.

“Aku tidak mengajak kamu kesana kok, Win,” jawabnya setelah menarik nafas panjang.

“Maksud kamu bagaimana? Aku malah bingung nih.”

“Berat banget, Win,” ucapnya lirih. “Aku tak tahu harus memulainya darimana.”

Perasaanku mendadak tak enak, apalagi setelah melihat kabut tebal hadir di roman mukanya. Agak lama aku saling tatap dalam diam. Di mataku, tatap itu seolah mengungkapkan hati yang begitu lemah dan butuh sandaran. Tanpa sadar kuusap helai rambutnya. Dan entah bagaimana awalnya, Sofie kudapatkan terisak dalam pelukanku.

“Bicaralah, Fie. Jangan bikin aku merasa asing. Sofie yang aku kenal bukanlah perempuan lemah,” aku coba membujuknya. “Sebenarnya ada apa? Siapa tahu aku bisa bantu..”

“Aku merasa berdosa kepadamu. Dan aku juga bingung harus bicara darimana..” bisiknya disela tangis.

“Ayolah, kamu pasti bisa. Aku cuma ingin tahu, kenapa kamu ingin aku kembali.”

“Tapi aku takut kamu tidak bisa menerima kalau aku katakan.”

Aku mencoba tersenyum, “Aku sudah berpikir panjuang sejak tadi, Fie. Aku kesepian disini. Aku ingin kembali ke alam ramai. Rasanya sudah cukup lama aku lari dari kenyataan. Dan nyatanya, tidak ada yang aku dapatkan dalam pelarianku ini. Kita kembali besok siang, ok?”

“Tidak, win…” jawabnya agak keras kali ini. “Aku hanya ingin kamu melupakan luka yang aku buat dulu. Dan jangan usir aku lagi dari sini, Win..”

“Lho, maksudmu..?” keningku sedikit berkerut. “Kamu mau tetap disini? Bagaimana dengan Riko?”

“Riko sudah meninggalkan aku, Win…”

Sejenak aku tertegun. Tapi tetap kuusahakan tersenyum,” Ok, ok. Jangan bahas itu kalau memang membuat kamu sakit. Kamu juga harus tahu, sejujurnya sudah sejak lama aku merindukan itu. Cuma aku tak berani berbuat apa-apa selain diam, karena aku tahu itu keinginan yang jahat. Tenanglah, Fie… Tidak ada kata terlambat kok. Kita bisa mulai lagi dari awal.”

“Iya, aku yakin kamu belum berubah, Win. Tapi…. Aku takut.”

“Hei, sudah dong,” kuusap air mata di pipinya dengan ujung jari. “Senyumlah, Fie. Kalau memang itu harapanmu, jangan sedih dong. Aku sudah memelukmu dan takkan melepaskanmu lagi. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Ayo dong, tersenyumlah untukku.”

“Tapi, Win. Aku takut. Riko…”

Waduh, tangisnya mulai lagi. Ternyata memahami perasaan perempuan lebih sulit dari yang aku kira. Kupeluk dia lebih erat dan kucium hitam rambutnya.

“Kenapa, Fie..? Riko sudah pergi dari kamu kan? Lupakanlah. Apa dia masih menyimpan dendam?”

Sofie mengangkat kepala menatapku dalam linangan penuh harap. “Tapi kamu janji kan, mau menyayangi dan melindungiku kalau aku…”

Kupotong ucapannya dengan menaruh telunjuk di bibir mungilnya. “Aku sudah bilang tadi, Fie. Takkan kulepaskan kamu dari pelukanku. Jangankan Riko yang hanya pintar berteori itu. Macam gunung turun malam ini pun akan aku hadapi. Percayalah..!”

“Benar, Win..?”

“Ya,” jawabku sambil mengangguk mantap. “Katakan dendam Riko, Fie.”

“Pengecut itu tidak dendam, Win,” jawabnya lirih. “Tapi, dia pergi… setelah aku serahkan segalanya…“

Tangisnya meledak lagi

Jumat, 25 April 2008

Keindahan Yang Pergi

Akhir September...

"Win..." seorang teman menepuk pundakku saat aku sibuk packing carrier. "Lebih baik kamu serahkan tugas ini ke orang lain. Tugas ini tidak terlalu berat. Lia butuh support moral kamu. Ayolah... kita ke Margono sekarang."

Aku diam sejenak lalu menggeleng. "Aku sudah menengok dia kemarin. Aku harus tetap berangkat. Tim kita baru pulang pelatihan, masih lelah. Aku lebih dibutuhkan oleh mereka."

"Tapi Lia lebih penting, Win. Dia pacar kamu. Sedangkan korban yang akan kita cari bukan apa-apa kamu. Jangan egois begitu lah..."

Aku terdiam lagi. Terbayang di pelupuk mata bayangan Lia yang tergolek lemah di ruang ICU RS Margono Sukarjo. Kemarin aku disana menemaninya sepanjang sore. Kondisinya sudah mulai membaik, semangat hidupnya sangat tinggi. Aku yakin kesehatannya akan cepat pulih. Makanya aku langsung mengiyakan ketika aku harus membawa Tim kecilku ke Gunung Sindoro membantu pencarian pendaki yang hilang.

"Heeeh... malah ngelamun." temanku menghardik. "Dah kamu mendingan kesana. Barusan dia manggil-manggil kamu terus. Masa sih kamu tega ninggalin dia. Biar aku yang bawa pasukan ke Sindoro."

Aku berdiri mengangkat tas punggung dan berkata tegas, "Tugas dimulai. Buat barisan bersaf. Yang tidak siap, silakan keluar barisan."

Akupun pergi bersama Tim kecilku. Saat pulang Lia sudah sehat dan ceria seperti biasanya. Dia menyambutku dengan senyum lembutnya yang sempat terlupakan selama seminggu lebih.

"Sukses operasinya, Wins..?" dia mengangkat tangan mengajak tos.
"Berkat doamu, Yang..." jawabku sambil meneruskan membereskan peralatan tempur yang kotor berlumuran tanah. Hampir satu jam aku melakukan itu. Lia terus memperhatikanku sambil duduk di bawah pohon akasia. Aku baru berhenti ketika temanku melemparkan sepatu PDL ke arahku.

"Apa-apaan nih..?" aku bertanya.

Dia malah menyeringai. "Kamu manusia paling tidak berperasaan."

"Apaan sih..?" aku masih bingung. Temanku cuma menoleh ke arah Lia. Aku cuma nyengir sedikit. "Biarin lah, gapapa kok. Dia orangnya setia. Sampai besok pun pasti siap nungguin."

"Wiiin..." Aku diseret ke dalam sekretariat. "Amalia begitu setia ke kamu. Dia selalu selalu baik ke kamu. Tapi dia sakit butuh kamu ada di dekatnya, kamu malah pergi. Sekarang kamu pulang malah cuek begitu. Dia pasti mau ngomong sesuatu, Win...?"

"Ada apa sih..?" makin bengong aku. Temanku itu malah mengambil Buku Induk Anggota dan membuka halamannya lalu menyodorkan kepadaku. Ujung jarinya menunjuk sesuatu. Aku baca...

Masya Alloh, besok dia ultah. Langsung aku lari keluar sambil mendorong jidat temanku pakai ujung jari. "Tengkyu, friend..."

Benar apa yang dikatakan temanku. Lia menanyakan apakah aku melupakan sesuatu. Lalu aku tanya keinginannya.

"Kita ke gunung Slamet, Win..."

Aku termenung agak lama. Aku baru pulang pelatihan, lalu ke Sindoro, dan sore ini harus ke Slamet. Lia sendiri baru sembuh dari sakitnya. Aku tatap wajahnya dalam-dalam. Namun yang muncul justru rasa tak tega melukai hatinya. Terasa sekali selama ini aku jarang membalas semua perhatiannya yang begitu besar terhadapku. Haruskah aku mengecewakannya juga kali ini...?

Aku berangkat siang itu. Dan siapa yang menyangka bila pendakian itu adalah pendakian terakhirnya. Sekaligus hari terakhir kebersamaanku dengannya. Aku tak mampu membawanya turun gunung lebih cepat saat hipotermia menyerangnya.

Penyesalanku benar-benar tiada akhir...
Mengapa aku membawanya ke gunung padahal dia belum begitu kuat. Mengapa aku harus tetap berangkat padahal aku kelelahan sehingga tak mampu membawanya turun ke ketinggian aman.

Dan...
Penyesalanku yang terbesar adalah....
Mengapa selama ini aku tidak pernah menyadari bila dia begitu baik dan perhatian. Mengapa selama ini aku tak merasakan dia adalah segalanya.

Dan mengapa dia terasa lebih indah setelah semuanya pergi....?

Seorang Teman

Adalah seorang teman. Sebut saja namanya Nunu. Usahanya gulung tikar karena kepolosannya dalam berbisnis dan tertipu sampai akhirnya hutang ratusan juta yang tersisa. Temanku itu berusaha sekuat tenaga menutup semua beban yang sebenarnya bukan tanggungan dia.Dia lari dari satu tempat ke tempat lainnya mengikuti jalan rejekinya hanya untuk bisa segera bangkit dari keterpurukan.

Istrinya, sebut saja Rara yang setia pun turut serta mencari nafkah untuk menopang kehidupannya sehari-hari dengan seorang anaknya. Diapun berharap sang suami bisa bergerak lebih cepat agar semuanya tertutup dan bisa memulai segala kehidupannya dari titik nol.

Setahun berlalu. Segalanya mulai berubah. Sang suami mulai letih dengan kucuran keringatnya yang hasilnya selalu habis entah buat siapa. Sang istri pun mulai jenuh dengan kesibukan yang sebenarnya bukan tanggungjawabnya. Sementara belaian sayang dari sang suami jarang sekali dia terima karena jarak memisahkan.

Pucuk dicinta ulam tiba.
Datang uluran tangan disertai senyum manis dan janji-janji indah dari seseorang pada Rara. Bagai orang kehausan di gurun gersang, godaan-godaan itu akhirnya mampu menggoyahkan hati Rara. Perlahan-lahan dia mulai belajar mengikis bayangan Nunu yang masih saja terus mengejar ketertinggalannya.
Sampai akhirnya suatu saat Nunu pulang dan mendapati istrinya telah pergi. Diraihnya Rio, anak semata wayang yang menatapnya sayu sembari bertanya "ibu dimana ayah?"

Nunu tidak mengeluh. Biarlah kehidupan berjalan berbeda, "hanya kau asaku dalam hidup, anakku..."

Waktu kembali berjalan. Nunu masih terus berlari mengejar masa depan. Sampai suatu pagi yang cerah, sudut matanya menangkap bayang-bayang Rara di seberang jendela.
Nunu berlari ke depan pintu dengan tatapan haru, membuka hati dan kedua tangan lebar-lebar ingin menyambut sosok ibu dari anaknya.

Rara menepis uluran tangan Nunu lalu memeluk Rio sambil berkata, "Aku ambil anakku..."
"Kenapa?" Nunu sedikit tercekik.
"Aku yang melahirkan dan membesarkan, kau hanya tahu mencari uang tanpa mau tahu lelahnya seorang ibu."
"Aku ayahnya... kau tega meninggalkan anakmu hanya untuk mengejar kesenanganmu... Aku juga memeras keringat untuk anakku..."

"Carilah uang yang banyak untuk anakmu, tapi biarkan aku yang mengasuhnya. Kasih sayang seorang ibu lebih dibutuhkan oleh seorang anak daripada perhatian ayah.."

Rara pun berlalu membawa Rio.Tinggalah Nunu terpekur kehilangan asa. "Haruskan aku setia menantimu kembali..?"

“Tidak perlu, kak.”

Ada suara lembut menyapu kegundahan Nunu. Mata sembabnya berputar perlahan menerpa sosok lembut di depannya.

“Tina..” bisik Nunu perlahan.

Perempuan yang selama ini mengasuh Rio bila Nunu pergi mencari rejeki itu duduk di bangku kayu tak jauh dari Nunu. Seulas senyum teduh menyejukan mengembang di bibir mungil itu.

“Saya tahu yang kakak rasakan” ucapnya. “Saya juga merasa kehilangan Rio.”

“Sudahlah, Tina, bagaimanapun dia ibunya.” Nunu memaksakan tersenyum membuang raut pedih di wajahnya.

“Tapi kan tidak begitu seharusnya, kak. Rio juga lebih bahagia bersama ayahnya.”

Nunu hanya menghela nafas panjang menatap kosong ke ujung jalan. Dan sepasang bola mata indah terus memperhatikan lelaki di hadapannya mencoba memberinya kekuatan pada hati yang terluka itu.

“Kakak tidak boleh sedih, ya. Bangkitlah, kak. Buktikan kakak mampu menunjukan kebersihan hati kakak, paling tidak kepada Yang Di Atas Sana. Percayalah, suatu saat Rio akan kembali kepada kakak.”

“Tapi, saya tak mungkin bisa menghapus Rio dari hidup saya.”
“Kak, beban kakak sekarang ini teramat berat. Jangankan mengendongnya, untuk berdiri saja kakak sudah tidak mampu. Letakkanlah beban itu, kak”

“Tidak mungkin, Tina. Rio adalah sumber harapanku.” Desah Nunu sambil menunduk dalam.

“Kakak..” Tina berucap perlahan. “Hanya sementara, kak. Dengan melepas beban itu, kakak bisa bangkit dan berlari menuju kehidupan baru. Setelah kakak merasa kuat, kembalilah. Ambil beban itu dan bawalah serta.”

Nunu terdiam agak lama. Tapi kemudian mengangguk lalu bangkit berdiri. “Baiklah, Tina. Saya akan berusaha untuk itu. Tolong bantu saya, ya..”

“Saya pulang dulu ya, kak.” Tina mengangguk dan ikut berdiri lalu mengulurkan bungkusan tas plastik hitam kepada Nunu. “Ini kak, tadi saya beli makanan buat Rio. Kemarin Rio bilang ingin makan serabi. Buat kakak saja ya”

Tina berjalan menuju rumahnya di seberang jalan. Nunu terpaku menatap perempuan itu sampai lenyap di balik pintu. Ada yang berdesir halus dalam dadanya. “Kamu yang terbaik buat Rio, Tina…”

Tahun berganti. Nunu benar-benar bisa bangkit dari keterpurukannya. Dan semua itu tak lepas dari dorongan dan bantuan moral dari Tina. Sampai akhirnya, Nunu memutuskan untuk menikah dengan gadis pujaannya itu.

Saat itu senja mulai temaram. Langit berhiaskan awan lembayung sepanjang ufuk barat. Nunu duduk berdua bersama Tina membicarakan rencana mereka. Ketika tiba-tiba,

“Ayaaaah…..”

Keduanya tersentak dan sejenak terpaku.

“Rio kembali, kak.” Ucap Tina setengah berteriak.

“Benarkah..?” Nunu masih belum begitu sadar dengan yang didengarnya.

“Ayaaah…” suara itu terdengar kembali.

Nunu bangkit dari keterpanaannya, lalu melompat menuju pintu. “Kamu benar Tina, Rio kembali..”

“Ayah, Rio kangen ayah,”

Nunu memeluk jagoannya erat tanpa mampu bicara sepatah kata. Mata dan hatinya bersimbah air mata bahagia. Sementara Tina pun turut hanyut dalam kebahagiaan itu.

Ternyata ketegaran hati itu bisa menuai kebahagiaan. Buah hatinya kembali di saat keindahan lain sudah menanti.

“Sama siapa Rio pulang?” tanya Nunu setelah emosinya sedikit terkendalikan.

Sebelum sempat Rio menjawab, terdengar suara lemah di ambang pintu.

“Saya kembali, Yah… Maafkan kesalahan saya selama ini. Saya sadar, ternyata yang terbaik buat saya dan Rio hanya ayah.”

“Rara…” Suara Nunu tertahan di tenggorokan.

Rara yang masih berdiri di depan pintu melangkah masuk.

“Ayah masih menerima kami berdua kan, yah..? Demi kebahagiaan Rio, Yah. Demi Rio…”

“Demi Rio…” Aku pun turut mendesah pelan berselimut tanya.

Sidareja 06012008 01:30

Selamat Ulang Tahun Kekasih Gelapku

Dua hari menduda, terasa benar capenya mengurus rumah dan anak sendirian. Habis subuh, masak, nyuci, nyetrika baju sekolah lalu mengantar jagoan ke sekolah. Sesudah itu terus bengong. Mau keluar cari rejeki kok cuaca kurang mendukung, ditambah mata berat banget tadi malam habis ngerecovery data hardisk laptop temen yang rusak sampai hampir subuh. Akhirnya nongkrong di depan komputer ditemani secangkir kopi sambil membuka-buka blog yang lama tidak ditengok.

Istri pergi ke rumah temannya yang sedang punya gawe di luar kota. Sialnya ponsel istriku ketinggalan di rumah sehingga aku tidak tahu kapan dia pulang. Yang bikin lebih jengkel, istriku tidak nelpon dari wartel atau nebeng SMS pakai ponsel teman.

Belum begitu lama, ada SMS masuk…

“Ah…. OSIS iseng itu lagi…”pikirku

Memang sudah dua hari ini aku kebanjiran dari seseorang yang aku sendiri tidak kenal tapi mengaku dari SMA 1 kelas XI. Awalnya ingin kenalan dan katanya suka memperhatikan aku kalau pas ngobrak-abrik komputer di warnet. Semula aku cuek saja, tapi sepertinya tuh cewek pantang mundur banget.

Ada satu SMS yang sedikit menarik buat aku. “Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, aku dah sayang masa sih ga boleh kenal..?”

Buset dah…. Lalu aku jawab begini, “Ke sesama manusia kan harus sayang, masa harus berantem…”

Eh… dijawab sekali malah keterusan SMSnya, pakai mengajak jalan segala. Aku bilang “apa tidak pernah lihat jagoanku suka ikut nongkrong di warnet, aku sudah tua, nduk…

Malah dijawab “Mendingan yang dewasa, bisa ngemong (ngasuh)”

SMS-SMS lanjutannya kalo tidak salah bunyinya begini :

“Aku punya istri satu saja ga habis-habis, nduk… boro-boro pengen nambah”

“Aku belum pengen diperistri kok, masih sekolah”

“Jalan kamu tuh masih panjang…. Nikmatilah masa muda dengan positif”

“Kan laki-laki lebih suka sama daun muda? Bisa memberi efek yang positif.”

“Tapi aku punya prinsip, teman hidup cukup satu. Kebanyakan aplikasi terinstal bisa bikin otak hang…”

Walah… Diserang terus, aku malah mulai error nih. Tata bahasaku mulai ngacak kemana-mana. Jangan-jangan aku hang beneran nih. Apalagi setelah SMS jawabannya begini bunyinya.

“Sebelum hang, ya diupgrade dong ke versi 2.0…Tampilan lebih fresh dan kinerja lebih oke. Versi 1.0 kan suka banyak bugnya.”

“Tapi gimana ya. Aku punya aplikasi paling penting di dunia. Child 1.0 yang cuma kompatibel dengan Wife 1.0. Tidak bisa pakai Widow segala versi, apalagi Virgin yang rentan virus”

“Ga masalah, Virgin versi 2.0 kan bisa multiuser sharing asal statusnya hidden.”

Walah-walah… aku malah bingung sendiri. Setelah itu aku kembali cuek. Walau kadang kepikiran kata-kata teman, “Tidak apa-apa kok iseng sedikit buat hiburan…” Duuuh…

Lagi pusing memikirkan itu, anak sebelah rumah malah nyetel musik kenceng banget, lagunya Ungu.

Andai Kau Tahu…..
Demi Waktu…
Para Pencarimu…
Dari Satu Hati…
Tercipta Untukku…
Kekasih Gelapku…

Belum tamat lagu terakhir.. Preeeet… Listrik mati. Puaaaaassss….. loe..!!!! Teriakku tanpa sadar, tapi dalam hati.

Lagi pusing, malah jadi bengong mendengarkan lagu cengeng. Kayak anak muda saja. Cuman…
Kayaknya asyik juga ya… Bagaimanapun rumput tetangga suka kelihatan lebih hijau daripada di halaman rumah sendiri. Tapi… apakah kekasih gelap tidak akan bikin hidup kita jadi ikutan gelap nantinya..?

Huuuh… aku mengeluh panjang. Godaan itu ditambah provokasi teman sedikit banyak membuat aku mulai berfantasi. Tokek di sudut rumah bernyanyi seolah tahu isi hatiku. Dan ajakan paduan suara itu aku ikuti dengan semangat
“Sikat..”
“Jangan..”
“Sikat..”
“Jangan..”

Saat aku cengar-cengir sendiri membayangkan sesuatu, ponselku berbunyi. Kali ini bukan SMS, tapi panggilan. Ya ampun… calon kekasih gelapku tahu keinginanku. Sambil nyengir kuda sigap kuambil ponsel itu. Yess… kutekan sekuat tenaga sambil menyiapkan senyum seindah mungkin.

Suara merdu terdengar diujung speaker mungil.
“Yah… selamat ulang tahun ya… Ibu sudah hampir sampai nih, bawa hadiah istimewa buat ayah… Tapi ibu beli HP baru kemarin sama nomornya. Pergi tidak bawa HP rasanya aneh sih. Ayah harus ganti lho… Soalnya yang buat beli HP kan anggaran dapur bulan ini”

Setelah itu aku tidak tahu harus berkata apa…

Fiksi Cerita Cerpen

Warung Fiksi
Warung Fiksi (Wufi) bergelut di bidang cerita fiksi. Portal ini BUKAN media kritik. Di sini hanya ada analisis apresiatif terhadap dunia perfiksian, ... warungfiksi.wordpress.com/ - 25k - Tembolok - Halaman sejenis Fiksi - Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia Fiksi adalah sebuah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah ... Artikel mengenai fantasi atau fiksi ini adalah suatu tulisan rintisan. ... id.wikipedia.org/wiki/Fiksi - 15k - Tembolok - Halaman sejenis:: puisi & fiksi
puisi & fiksiDecember 12, 2005 4:33 pm ... puisi & fiksiNovember 2, 2005 12:55 pm ... yang patetic, puisi & fiksiAugust 8, 2005 10:25 am ...nagasundani.blogsome.com/category/puisi-fiksi/ - 44k - Tembolok - Halaman sejenis Fiksi atau Non-Fiksi, itulah Pertanyaannya | :: PELITAKU Fiksi atau non-fiksi? Barangkali tak sedikit penulis pemula yang masih ... Sebagaimana halnya dengan penikmatnya, baik tulisan fiksi maupun non- fiksi juga ...
pelitaku.sabda.org/fiksi_atau_non_fiksi_itulah_pertanyaannya - 27k - Tembolok - Halaman sejenis Gramedia Pustaka Utama Fiksi dan Sastra. Page 1 from 5 pages. Bacaan Sastra dan Puisi · Novel · Metro Pop · Novel Asli · Novel Terjemahan · Novel Grafis ...
www.gramedia.com/buku_kat.asp?kat_id=4&namkat=Fiksi+dan+Sastra - 29k - Tembolok - Halaman sejenis BOOKWORM - Fiksi Indonesia FIKSI INDONESIA DAN FIKSI TERJEMAHAN. SANG MAHA BINTANG 1 & 2 Pengarang: Jackie Collins Harga: @ Rp. 13.500,-. GARIS DARAH 1 & 2 Pengarang: Sidney Sheldon ... members.fortunecity.com/bookcase/fiksiindo.htm - 13k - Tembolok - Halaman sejenis Fiksi - Toko Buku Online - Penerbit ANDI Toko buku online. Cepat, mudah dan murah membeli buku. Buku-buku dari beragam kategori: buku komputer, buku bisnis-ekonomi, buku hukum, buku pariwisata, ... www.andipublisher.com/?buku-umum=productsList&iCategory=43 - 21k - Tembolok - Halaman sejenis Menulis Fiksi at MENULIS TANPA BERGURU MENULIS fiksi, kalau dipikir-pikir, dalam praktiknya lebih mudah dibanding menulis nonfiksi. ... Memang sih dalam menulis fiksi adakalanya perlu riset. ... webersis.com/2007/07/28/menulis-fiksi/ - 43k - Tembolok - Halaman sejenis Kisah-Kisah Teladan » Fiksi ... mata memandang Noura dengan seksama. Aku melihat orang-orang yang […] Previous Entries. You are currently browsing the archives for the Fiksi category. ... www.kisah.web.id/category/fiksi - 22k - Tembolok - Halaman sejenis The Da Vinci Code: Memisahkan Fakta dari Fiksi « Agamaku kesaksianku
Walau pun Dan Brown sendiri mengakui bahwa buku & film ini adalah fiksi, tetapi pemirsa/pembaca awam bisa saja dengan segera mempercayai ceritanya. ... gamaku.wordpress.com/2006/05/27/the-da-vinci-code-memisahkan-fakta-dari-fiksi/ - 49k - Tembolok - Halaman sejenis
Cerpen: kAu_tAk_pErNAh_jAuH at CypherHackz.Net bestttt gile..nak menangis aku baca cerpen ni.aku peminat sastera.aku pernah nak mencipta sebuah cerpen tapi x berkesempatan…tapi biarlah.so aku ucapkan ...www.cypherhackz.net/archives/2006/03/28/cerpen- au_tak_pernah_jauh/ - 28k - Cached - Similar pages - Note thisKolomKita.Com - kumpulan cerpen, puisi dan cerita-cerita kehidupan ... Posted in Cerpen, Cinta, Keluarga dan Sahabat, English Articles, Gairah dan Eros, Resah, Gelisah dan Sedih on Desember 20th, 2007 No Comments » ...www.kolomkita.com/category/english-articles/ - 33k - Cached - Similar pages - Note thisCerpen Cinta archive at Weddings, Celebrity Gossips & Personals ... Archive for the 'Cerpen Cinta' Category ... CERPEN yang pertama bertajuk “DI PINTU KLIA“. DI PINTU KLIA “Apakah itu definisi CINTA, bisakah ia pergi tanpa ...syokkahwin.com/blog/category/cerpen-cinta/ - 69k - Cached - Similar pages - Note thisomperi: CerpenCerpen ». Setiti · Epitaf · Terompet Ayah · Airmata Ayah · Pohon Kersen Ayah · Sebuah Luka Bagi Sang Demonstran · Allastu bi Rabbikum · Boneka · Panu ... omperi.wikidot.com/cerpen - 14k - Cached - Similar pages - Note this Koleksi Cerpen Maya Remaja IMNOGMAN v.2001 - Tepi setstats. www.liriklagu.com/imnogman/CerpenMayaTepi.html - 2k - Cached - Similar pages - Note this CERPEN KAU DAN AKU Lyrics - by MOIN : Lyrics And Songs Words Lyrics of the song CERPEN KAU DAN AKU By MOIN. www.lyricsandsongs.com/song/676859.html - 25k - Cached - Similar pages - Note this Harian Metro- Cerpen Terbaik Fair and Lovely » Contest for ... WEEKLY PRIZE: 1st - Nokia N73 worth RM1200 2nd - Pentax Camera worth RM700 3rd - 10 x RM100 *Extra RM100 if you are a Fair & Lovely User DEADLINE: 4th Oct ...emenang.com/wordpress/2007/09/21/harian-metro-cerpen-terbaik-fair-and-lovely/ - 33k - 17 hours ago - Cached - Similar pages - Note this
Cerpen Online - Spring SeasonSilahkan isi : T E S T I M O N I A LSelamat datang di Cerpen Online, silahkan menyalurkan bakat menulis anda, ... Silahkan Joint Group untuk bisa melihat seluruh cerpen yang ada. ...cerpenonline.multiply.com/ - 64k - Cached - Similar pages - Note thiscerpen Blogs - Blog Flux Blog Directory Blog cerita seram, cerita hantu, misteri, puaka, cerpen, novel, iklan, berita, tips, resipi, puisi d... By: mykam. 0/5 Stars. ...
dir.blogflux.com/tag/cerpen - 17k - Cached - Similar pages - Note this CERPEN FROM CARI - ninanurin 's secret space - Cari eBlog ... For those that like to read short story, cerpen.... boleh lah ke board writers Room..... hmm memang happening sangat and all the story really best.eblog.cari.com.my/?97376/viewspace-347.html - 21k - Cached - Similar pages - Note this